Jumat, 21 Agustus 2009

Laku Menghayati Hidup Sejati

Di lingkungan masyarakat Jawa, kata Kejawen sering dikaitkan dengan klenik. Banyak dihubungkan dengan hal-hal gaib dan tidak masuk akal. Hal tersebut adalah tidak benar dan memang tidak tahu makna sesungguhnya.

Seperti diungkapkan Suryo S Negoro, dalam bukunya yang diberi judul Kejawen, Laku Menghayati Hidup Sejati, diuraikan bahwa orang Jawa sejak 3000 tahun sebelum Masehi telah mengenal cara menanam padi dengan sistem irigasi. Pelaksanaan cara bercocok tanam itu membutuhkan satu kerjasama yang baik antar para petani, dan sampai saat kini masih tetap dipraktekkan.

Menurut Suryo S Negoro, para petani harus memiliki kesadaran tinggi untuk melaksanakan suatu persetujuan yang menyangkut berbagai aspek, sehingga memuaskan semua pihak yang terlibat dalam kerjasama tersebut. Selain sistem persawahan basah, orang-orang kuno juga telah mengenal perikanan, ilmu perbintangan, pertenunan, batik, gamelan, dan wayang. Sebelum masuknya agama Hindu dan agama lain, orang Jawa telah memiliki kebudayaan dan kepercayaan sendiri.

Dalam upacara-upacara tradisional Jawa, ritual-ritual kuno masih tetap berlaku sampai kini. Hal ini merupakan suatu bukti bahwa orang Jawa cukup luwes dalam memelihara identitasnya yang berharga. Selain eksistensi agama-agama yang banyak tersebar didunia, seperti agama Hindu, Budha, Islam, Kristen, dan beberapa yang lain, suatu kepercayaan lokal yang secara populer disebut Kejawen atau Kebatinan sampai sekarang masih tetap eksis.

Kejawen yang berakar kata Jawa adalah kawruh/ilmu spiritual Jawa dengan laku/jalan hidup yang baik dan benar, sehingga orang yang mempraktekkan ajaran ini secara benar dengan sepenuh hati akan menemukan jalan spiritual ke urip/hidup sejati, mencapai hubungan yang harmonis/serasi antara kawula dengan Gusti atau Jumbuhing Kawula Gusti. Ini yang disebut dalam istilah Jawa Kasunyatan/Kenyataan/Realitas.

Kebatinan berasal dari kata batin, jadi kebatinan = spiritualisme yang biasanya dimengerti sebagai ilmu spiritual atau ilmu sejati terhadap kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sementara, orang berpendapat bahwa Kejawen mempunyai makna yang lebih luas, selain kebatinan juga mencakup cara berpikir, seni, budaya, tradisi dan lain sebagainya. Eksistensi Kejawen pada hakekatnya memang tidak bisa dipisahkan dari gaya hidup dan berpikir orang Jawa, alam dan tradisinya.

Suatu konsep Jawa yang tetap berlaku sampai saat ini adalah Memayu Hayuning Bawono - memelihara/menjaga kecantikan jagad raya yang dalam arti lebih luas adalah memelihara/menjaga jagad raya untuk kesejahteraan seluruh penghuninya. Secara alami orang Jawa itu environmentalist - pemelihara alam dan lingkungan seperti yang jelas terlihat dalam tradisi dan ritualnya yang berorientasi kepada alam. Hidup dalam harmoni - rukun sangat penting, hubungan harmonis antara orang-orang didalam masyarakat, antara manusia dan alam, hubungan harmonis antara kawula dan Gusti.

Sejak usia muda orang Jawa telah dididik orang tua, keluarga, masyarakat dan guru-guru sekolah mengenai tentang kepercayaan kepada Tuhan, sikap moral, tata krama, dan lain-lain. Orang-orang tua selalu berkata, semua agama itu baik. Sampai dengan saat ini pada hakekatnya di Jawa tidak pernah terjadi konflik yang disebabkan perbedaan agama.

Empat Keraton dan Puro di Yogyakarta dan Surakarta, merupakan pusat dari budaya keraton Jawa, dimana upacara-upacara keraton dari sejak zaman dahulu tetap dilaksanakan. Kebudayaan rakyat seperti Upacara Bersih Desa yang berasal dari zaman kuno, juga masih tetap dilestarikan keberadaannya sampai sekarang.

Pengenalan Terhadap Sikap Moral Jawa, Tata Krama, Dan Tradisi.

Budi Pekerti, berarti moral dan kelakuan yang baik dalam menjalani kehidupan.
Hal ini merupakan tuntunan moral yang paling penting bagi orang Jawa tradisional. Orang yang mempunyai budi pekerti biasanya selalu selamat dalam hidupnya dan
diharapkan tidak akan mengalami kesulitan atau kesusahan dalam menjalani kehidupan. Maka, restu dari orang tua selalu dimulai dengan kata Slamet, artinya selamat. Budi pekerti adalah induk dari segala etika, tata krama, tata susila, kelakuan baik, san sebagainya. Pertama-tama, budi pekerti ditanamkan oleh orang tua dan keluarga dirumah, sesudah itu oleh masyarakat secara langsung maupun tidak langsung.

Cerita Wayang merupakan salah satu sumber penting dari pendidikan budi pekerti
bagi kaum muda. Dalam salah satu episode, ada sebuah ceritera yang melukiskan jalan untuk mencapai urip sejati, biasanya disebut manunggalaing kawulo Gusti. Dalam ceritera wayang, orang Jawa sepertinya melihat cermin kehidupan, karena itu wayang sangat populer di Jawa sampai saat sekarang.

Pelajaran yang dapat ditarik dari cerita wayang, didunia ada hal baik dan jahat, dan berakhir dengan kemenangan yang baik. Seperti kelompok Pandowo dan satriya-satriya lain, memiliki sifat dan watak jujur, luhur, dan sopan. Berjuang demi kebenaran untuk kesejahteraan rakyat dan negara. Dengan serius mempelajari spiritualisme-Kebatinan, menggunakan kekuatan supranaturalnya untuk tujuan mulia. Satria memiliki watak luhur dan bertanggung jawab.

Jangan sekali-kali mengikuti tindakan Kurawa dan kroni-kroninya. Mereka tidak jujur, serakah untuk kekayaan material dan kekuasaan, kasar dan tidak sopan. Senang menuruti hawa napsu seperti raksasa, dalam bahasa Jawa sering disebut Buto artinya buta atau orang yang tidak bisa membedakan baik-buruk, benar-salah. Penghuni jagad raya tidak hanya manusia, hewan, tumbuhan, namun juga ada makhluk lain yang sering disebut makhluk halus (ada yang baik dan buruk). Dewa-Dewi yang tinggal di Kahayangan, penguasa jagad raya ini adalah Sang Hyang Wenang, dalam pelaksanaannya memberikan wewenang kepada Batara Guru.

Hidup manusia, tempat dan garis hidupnya telah ditentukan kekuasaan supranatural
milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Manusia wajib bersyukur kepada Tuhan yang telah
memberikan kesempatan untuk hidup didunia, dengan jalan memuja-Nya. Maka manusia
jangan menggerutu kepada-Nya sewaktu mengalami penderitaan, dan sebaiknya
mendekatkan diri kepada-Nya.

Antara Ngelmu Sejati dan Ngelmu Karang

DI DALAM apa yang disebut Kejawen banyak jenis ngelmu dan laku. Selaras dengan wewarah leluhur bahwa belajar ngelmu Kejawen harus dilandasi pada semangat mencari mustikaning kelapa, yakni sampai pada pencerahan diri maupun lingkungannya, maka ngelmu dan laku juga bermacam ragam. Ada yang berkaitan dengan upaya kehidupan yang lahiriah, tetapi juga ada yang bergayut pada kepentingan batiniah, bahkan ada yang campuran antara keduanya. Demikian paling tidak dikedepankan penghimpun Kawruh Kejawen Ki Sondong Mandali yang meninggalkan tumpukan buku berisi wulang-wulang Kejawen.

Seperti halnya Kawruh sangkan paraning dumadi dan memayu hayuning bawana disebut ngelmu sejati. Lantaran merupakan ngelmu yang mengajarkan dasar kehidupan inti dari hidup manusia di dunia ini. Ngelmu sejati merupakan wujud ilmu kebatinan atau spiritual yang menuntun manusia memahami asal-usul kelahirannya di dunia ini dan kemana dia harus mengarahkan hidup ini, dan apa kewajibannya sebagai manusia diciptakan oleh Allah Yang Maha Kuasa.

Sedang ngelmu kebatinan yang tidak ada kaitannya dengan kawruh sangkan paran dan kawruh memayu hayuning bawana oleh Ki Sondong Mandali disebut sebagai ngelmu karang. Yaitu ngelmu kebatinan yang umumnya menuju kepada arah yang mendukung kepada keinginan besar untuk bisa menikmati kenikmatan duniawi. Kenikmatan duniawi itu biasa disebut dengan kata-kata khas dalam tembang maupun dalam wewarah atau unen-unen : Kumrubuking iwak, gumrincinge ringgit, lan kumlerape pupu kuning.

Di dalam Serat Wedhatama, atau ngelmu tentang laku kautaman, kenikmatan di dunia
itu kalau bisa diwujudkan dalam tiga hal:

1. Kerta (Arta), yaitu : kecukupan keduniawi an atau kaya harta benda. 2. Wirya,
artinya mampu menjaga kehormatan-kewibawaan sehingga terhormat dan disegani
masyarakat. 3. Winasis,(arif bijaksana), bisa Jadi tempat orang ngangsu kawruh menimba ilmu kehidupan.

Bisa jadi hampir semua manusia mempunyai keinginan seperti yang disebut dalam Wewarah Wedatama tersebut. Dan itu sah-sah saja, sebab sebenarnya di tengah masyarakat dan keluarga tentu memerlukan adanya orang yang memiliki ambisi demikian. Adanya orang kaya diperlukan kalau ada yang membutuhkan biaya. Membutuhkan orang yang wirya sebagai seorang panutan dan pemimpin masyarakat.

Dalam kaitan dengan ini pemahaman wirya bukan hanya untuk pengertian dihormati saja. Tetapi memuat watak ksatria di dalam batinnya. Masyarakat juga membutuhkan orang-orang yang pandai winasis yang mempunyai wawasan yang luas. Sebab adanya orang pandai ini bisa menjadi tempat orang bertanya atau minta petunjuk agar hidupnya menjadi baik. Apabila orang tidak mempunyai keinginan tiga perkara tersebut Wedatama menyebutnya sebagai Pohon Jati aking. Pohon jati yang kering yang mengering.

Artinya hidupnya tidak mempunyai arti lagi. Jadi, menurut pujangga pencipta Wedatama, setiap manusia harus mempunyai cita-cita kerta, wirya, winasis tersebut. Hanya saja harus benar dan baik cara mewujudkan cita-citanya tersebut.

Kaya bukan karena mengambil bukan haknya atau korupsi, mencuri, kawiryan tidak lantaran menipu atau membohongi orang lain atau bahkan menindas rakyat . Serta kepandaiannya bukan hanya berwujud gelar kesarjanaan yang banyak dan berderet-deret.
Masyarakat memerlukan orang yang kaya mau menolong dan siap bahu membahu untuk masyarakat yang berkekurangan. Masyarakat juga memerlukan orang yang wirya-panutan yang mampu mengayomi, dan masyarakat juga membutuhkan orang yang pandai- winasis yang memang bisa ditimba ilmunya, terlebih ilmu kehidupannya yang baik.

Ada juga yang pemahaman akan piwulang kerta wirya winasis tadi salah dalam melaksanakannya. Yang diterima hanyalah kulitnya saja. Akibatnya menimbulkan pemahaman dan pengertian yang menyimpang jauh dari yang diartikan oleh yang memberikan piwulang. Pemahaman atau pengertian bahwa kebahagiaan hidup manusia itu kalau kaya, punya kekuasaan dan pandai, ini menjadi pertanyaan besar, sehingga dengan cara apapun bakal dicapai, meski itu caranya tidak halal. Dengan kata lain ?tujuan menghalalkan cara?.

Oleh karena ingin cepat kaya dan mempunyai kekuasaan dan ingin cepat-cepat dianggap orang pandai lalu mencari mudahnya saja. Kekayaannya dicapai dengan menggunakan cara yang salah, seperti korupsi atau dengan cara yang tidak benar. Ingin jadi penguasa kemudian meminta pertolongan orang-orang yang sakti mandraguna yaitu dengan membayar menggunakan cara-cara premanisme. Dan supaya dianggap orang pandai lalu membeli gelar kesarjanaan.

Ngelmu kebatinan yang digunakan untuk mencari kekayaan, aji-aji, pangaribawa,
jimat, gendam, dan sejenisnya di dalam Serat Wedhatama dianggap kurang pada tempatnya dan kurang baik. Sebab dianggap kekarangan atau bersekutu dengan bangsa mahkluk gaib.

Selasa, 24 Februari 2009

SASTROJENDRA

SASTRA JENDRA SEBAGAI AJARAN SINENGKER (RAHASIA)

1) Ajaran ini bersumber dari istilah Sastra Harjendra Yuning Rat yang bersumber dari kisah Arjoena-Sasra Baoe karya pujangga R.Ng.Sindoesastra (Van Den Broek, 1870:31,33). Ungkapan serupa : Sastra Herjendra Hayuning Bumi (ibid:30) Sastra Hajendra Hayuningrat Pangruwating Barang Sakilar (ibid:31), atau Sastradi (ibid:31), sastra Hajendra (ibid:31), sastra Hajendra Yuningrat Pangruwating Diyu (ibid:31), sastra Hajendra Wadiningrat (ibid:31), Sastrayu (ibid: 32, 34), atau sastra Ugering Agesang Kasampurnaning Titah Titining Pati Patitising Kamuksan (ibid:32), Jatining Sastra (ibid:32).

2) Arti masing-masing istilah (Pradipta 1995) adalah sbb:
a. Sastra Hajendra Yuning Rat (ilmu ajaran tertinggi yang jelas tentang keselamatan alam semesta)
b. Sastra Harjendra Wadiningrat (ilmu ajaran keselamatan alam semesta untuk Meruwat raksasa).
c. Sastra Hajendra Wadiningrat (ilmu ajaran tertinggi tentang keselamatan alam semesta rahasia dunia)
d. Sastrayu (ilmu ajaran keselamatan)

3) Penafsiran

a. Seperti diketahui dalam kitab Arjoena-Sasra-Boe tak ada uraian yang memadai tentang bentuk, isi, dan nilai ajaran Sastra Jendra yang sinengker itu. Namun demikian janganlah lalu ditafsirkan bahwa di kalangan masyarakat Jawa tak ada seorangpun terutama pada waktu itu yang tidak tahu tentang bentuk, isi, dan nilai ajaran tersebut. Bahkan sebaliknya justru karena singkatnya uraian Sindusastra, dapat ditafsirkan bahwa masyarakat sudah tahu dan memahami betul tentang ajaran yang bersifat rahasia itu. Perihal Sinengker dapat ditafsirkan bahwa situasi, kondisi, lingkungan , iklim, suasana sosial dan budaya setempat /waktu Sastra Jendra dilahirkan ,mungkin belum dapat diterima secara iklas dan trasparan,akan kehadiran ajaran Sastra Jendra tersebut

b. Didalam kitab Arjoena-Sasra-Baoe, Sastra Jendra hanya diuraikan secara singkat sbb:

Sastrarjendra hayuningrat,pangruwat barang sakalir, kapungkur sagung rarasan, ing kawruh tan wonten malih, wus kawengku sastradi, pungkas-pungkasaning kawruh, ditya diyu raksasa, myang sato sining wanadri, lamun weruh artine kang sastrarjendra. Rinuwat dening bathara, sampurna patinireki, atmane wor lan manusa, manusa kang wus linuwih, yen manusa udani, wor lan dewa panitipun, jawata kang minulya mangkana prabu Sumali, duk miyarsa tyasira andhandhang sastra.

Terjemahannya :

Ilmu/ajaran tertinggi tentang keselamatan alam semesta, untuk meruwat segala hal, dahulu semua orang membicarakan pada ilmu ini tiada lagi, telah terbingkai oleh sastradi. Kesimpulan dari pengetahuan ini bahwa segala jenis raksasa, dan semua hewan di hutan besar, jika mengetahui arti sastra Jendra. Akan diruwat oleh dewa,menjadi sempurna kematiannya (menjadi) dewa yang dimuliakan, demikianlah Prabu Sumali, ketika mendengar hatinya berhasrat sekali mengetahui Sastra Jendra.

c. Secara esensial ilmu/ajaran Sastra Jendra yang berarti ilmu/ajaran tertinggi tentang keselamatan, mengandung isi dan nilai Ketuhanan YME,mungkin karena pertimbangan tertentu, maka yang dipaparkan baik dalam Serat Arjunasastra maupun didalam lakon-lakon wayang hanyalah sebatas kulit saja, belum mengungkap secara mendasar tentang pokok bahasan dan materi yang sebenarnya secara memadai. Namun demikian bagi orang yang memiliki ilmu semiotik Jawa (ilmu tanda atau ilmu tanggap samita), mungkin dapat menangkap maksud dan tujuan ilmu ini , serta dapat memaknai ilmu Ketuhanan YME dalam proyeksi mikro dan makro.

d. Struktur ilmu/ ajaran sastra Jendra dapat disusun sebagai berikut.:
Sastra Jendra/Sastradi/Jatining Sastra/Satrayu
Sastra Jendra Hayuningrat
(Sastra Jendra untuk setiap tatasurya)
Sastra Jendra Hayuning Bumi
(Sastra Jendra untuk Bumi dimana manusia hidup)
Sastra Jendra Pangruwating Barang Sakelir
(Untuk Meruwat segala Macam mahluk hidup)
SJP SJP SJP SJP
Kewan Dayu Manungsa Lsp
(Hewan) (Raksasa) (Manusia) (Lainnya)

Sastra Jendra Hayuning Bumi

(Sastra Jendra untuk bumi dimana manusia hidup)
Agama Kepercayaan thd Tuhan YME ainnya
Agama :
Sastra Jendra Hayuning Bumi
Sastra Jendra utk Bumi dimana manusia hidup
Islam Katolik Kristen Hindu Budha
Kepercayaan terhadap Tuhan YME :
Sastra Jendra Hayuning Bumi
(Serat Jendta utk Bumi dimana manusia hidup)
Kanuragan Sangkan Paran Kasampurnan Kasucen
(SUAKTTPPK)
*SUAKTTPPK = Sastra Urgening Agesang Kasampurnaning Titah Titining Pati Patising Kamuksan.
(Ilmu/ajaran) pedoman hidup kesempurnaan manusia kesempurnaan mati kesempurnaan moksa).
Lainnya :
Sastra Jendra Hayuning Bumi
(Sastra Jendra untuk Bumi dimana manusia hidup)
Agama Kepercayaan thd Tuhan YME lainnya di dunia

a. Sastra Jendra sebagai paguyuban Kepercayaan terhadap Tuhan YME

Di Indonesia terdapat organisasi budaya spiritual bernama paguyuban Sastra Jendra Hayuningrat Pangaruwating Diyu, anggotanya tersebar luas ke 14 propinsi. Paguyuban ini berpusat di Jakarta, disesepuhi oleh KRMH. Darudriyo Soemodiningrat. Paguyuban ini meyakini adanya Tuhan YME dan keberadaannya tak dapat diibaratkan dengan apapun. Menurut naskah pemaparan Budaya Spiritual. Ada pola dasar ajaran :
1. Ajaran tentang Tuhan YME
2. Ajaran tentang Alam semesta
3. Ajaran tentang Manusia
4. Ajaran tentang Kesempurnaan
(Uraian terperinci tidak disajikan di sini)
Menurut nama sumber Widyo Isworo SH (alm). Salah seorang warga senior dari paguyuban tersebut, Sastra Jendra yang amat luas berasal dari keraton, dipergunakan oleh para raja. Jadi sudah sejak dahulu ada. Sedangkan ilmu yang dikelola oleh paguyuban ini hanyalah terbatas pada Sastra Jendra yang berurusan dengan peningkatan watak dan perilaku raksasa saja. Itulah sebabnya diambil nama Sastra Jemdra Hayuningrat Pranguanting Diyu. Seseorang sebelum menyerap ilmu ini harys mengerti terlebih dahulu tentang mikro dan makro kosmos. Sesudah itu baru secara bertahap ia memahami, menghayati dan mengamalkan :

1). Kasatriyan (Kesatriaan)
2). Khadewasan (Kedewasaan)
3). Kesepuhan
4). Kawredhan

Ilmu ini sungguh bersifat rahasia dalam arti tidak mungkin disebar luaskan secara terbuka, karena penuh dengan laku bathin yang tidak sepenuhnya bisa diterima umum secara rasional.

Dikutip:
Seri Baboning Kitab Primbon , Penerbit “Kangaroo “ Jl.Letjend.Sutoyo 2 Cengklik Solo

Senin, 23 Februari 2009

Serat Wirayat Jati

Anênggih punika pituduh ingkang sanyata, anggêlarakên dunung lan pangkating kawruh kasampurnan, winiwih saking pamêjangipun para wicaksana ing Nungsa Jawi, karsa ambuka pitêdah kasajatining kawruh kasampurnan, tutuladhan saking Kitab Tasawuf, panggêlaring wêjangan wau thukul saking kawêningan raosing panggalih, inggih cipta sasmitaning Pangeran, rinilan ambuka wêdharing pangandikaning Pangeran dhatêng Nabi. Musa, Kalamolah, ingkang suraosipun makatên: Ing sabênêr-bênêre manungsa iku kanyatahaning Pangeran, lan Pangeran iku mung sawiji.

Inilah sebuah petunujuk yang benar yang menjelaskan tentang ilmu sirr kesempurnaan hidup, yang berakar dari ajaran para ahli hikmah di tanah Jawa, yang hendak membuka hakikat kesempurnaan sejati, sebuah pelajaran dari kitab Tasawuf, tersingkapnya ajaran ini terpancar dari kebersihan jiwa heningnya alam pikiran, yaitu tanggapnya rasa atas cipta Tuhan, dengan ihlash mengawali pelajaran ini yakni dengan menukil Firman Allah kepada Nabi Musa AS yang bermakna : Yang sebenar- benar manusia itu adalah kenyataan (adanya) Tuhan, dan Tuhan itu Maha Esa.

Pangandikaning Pangeran ingkang makatên wau, inggih punika ingkang kawêdharakên dening para gurunadi dhatêng para ingkang sami katarimah puruitanipun. Dene wontên kawruh wau, lajêng kadhapuk 8 papangkatan, sarta pamêjanganipun sarana kawisikakên ing talingan kiwa. Mangêrtosipun asung pêpengêt bilih wêdharing kawruh kasampurnan, punika botên kenging kawêjangakên dhatêng sok tiyanga, dene kengingipun kawêjangakên, namung dhatêng tiyang ingkang sampun pinaringan ilhaming Pangeran, têgêsipun tiyang ingkang sampun tinarbuka papadhanging budi pangangên-angênipun (ciptanipun).

Firman Allah yang demikian ini yang diajarkan oleh para ahli (mursyid) kepada sesiapa yang diterima penghambaannya(salik). Dimana ajaran itu, kemudian teringkas menjadi 8 hal, penyampaiannya dengan cara membisikkan ke telinga murid sebelah kiri. Pemahaman semacan ini memberikan pengertian bahwa ilmu ‘kasampurnan’ ini tidak seyogyanya diajarkan kepada sembarang orang, kecuali kepada orang-orang yang telah mendapat hidayah dari Allah SWT, artinya orang yang telah tercerahkan dirinya (ciptanya).

Awit saking punika, pramila ingkang sami kasdu maos sêrat punika sayuginipun sinêmbuha nunuwun ing Pangeran, murih tinarbuka ciptaning sagêd anampeni saha angêcupi suraosing wejangan punika, awit suraosipun pancen kapara nyata yen saklangkung gawat. Mila kasêmbadanipun sagêd angêcupi punapa suraosing wêjangan punika, inggih muhung dumunung ing ndalêm raosing cipta kemawon.

Maka dari itu, barang siapa yang sudi membaca tulisan ini seyogyanya berlandaskan permohonan kepada Allah, agar kiranya dapat terbuka ciptanya hingga mampu menerima dan memahami maknanya, karena makna dari ajaran ini ternyata sangat rumit/berbahaya. Maka bisanya memahami ajaran ini tidak lain hanya berada di dalam cipta - rasa pribadi.

Mila inggih botên kenging kangge wiraosan kaliyan tiyang ingkang dereng nunggil raos, inggih ingkang dereng kêparêng angsal ilhaming Pangeran. Hewa dene sanadyana kangge wiraosing kaliyan tiyang ingkang dereng nunggil raos, wêdaling pangandika ugi mawia dudugi lan pramayogi, mangêrtosipun kêdah angen mangsa lan êmpan papan saha sinamun ing lulungidaning basa.

Maka tidak boleh kiranya untuk didiskusikan dengan orang yang belum sapai atau belum mengunggal rasanya dengan kita, yaitu orang yang belum menerima hidayah dari Allah SWT. Walau demikian seandainya harus disampaikan kepada orang yang belum sampai, hendaknya disampaikan dengan sangat hati-hati, melihat situasi- kondisi, waktu dan tempat yang tepat serta disampaikan dengan kiasan bahasa yang indah.

Mênggah wontêning wêwêjangan 8 pangkat wau, kados ing ngandhap punika:
Delapan wejangan tersebut di atas, sebagaimana di bawah ini:
I, 1. Wêwêjangan ingkang rumiyin, dipun wastani: pitêdahan wahananing Pangeran, sasadan pangandikanipun Pangeran dhatêng Nabi Mohammad s.a.w. Makatên pangandikanipun: Sajatine ora ana apa-apa, awit duk maksih awang-uwung durung ana sawiji-wiji, kang ana dhihin iku ingsun, ora ana Pangeran anging ingsun sajatine kang urip luwih suci, anartani warna aran lan pakartiningsun (dat, sipat, asma, afngal).

I. 1 Wejangan yang pertama, disebut pelajaran akan sifat-sifat Allah. Sebagaimana firman Allah kepada Nabi Muhammad SAW yang bermakna kurang lebih begini: Sesungguhnya tidak ada apa-apa tatkala sebelum masa penciptaan, yang ada (paling awal) itu hanya Aku, tidak ada Tuhan kecuali Aku yang Hidup dan Maha Suci baik asma maupun sifatKu (dzat, sifat, asma, af’al).

I, 2. Mênggah dunungipun makatên: kang binasakake angandika ora ana Pangeran anging ingsun, sajatine urip kang luwih suci, sajatosipun inggih gêsang kita punika rinasuk dening Pangeran kita, mênggahing warna nama lan pakarti kita, punika sadaya saking purbawisesaning Pangeran kita, inggih kang sinuksma, têtêp tintêtêpan, inggih kang misesa, inggih kang manuksma, umpami surya lan sunaripun, mabên lan manisipun, sayêkti botên sagêd den pisaha.

I. 2. Yang dimaksud begini: Yang digambarkan tiada tuhan kecuali aku, hakekat hidup yang suci, sesungguhnya hidup kita ini adalah melambangkan citra Allah, sedang nama dan perbuatan kita itu semua berasal dari Kemahakuasaaan Allah, yang ‘menyatu’ ibarat matahari dan sinarnya, madu dengan manisnya, sungguh tiada terpisahkan.

II, 1. Wêwêjangan ingkang kaping kalih, dipun wastani: Pambuka kahananing Pangeran, pamêjangipun amarahakên papangkatan adêging gêsang kita dumunung ing dalêm 7 kahanan, sasadan pangandikanipun Pangeran dhatêng Nabi Mohammad s.a.w. Makatên pangandikanipun: Satuhune ingsun Pangeran sajati, lan kawasan anitahakên sawiji-wiji, dadi padha sanalika saka karsa lan pêpêsteningsun, ing kono kanyatahane gumêlaring karsa lan pakartiningsun, kang dadi pratandha.

II.1 Wejangan yang kedua adalah : Pengertian adanya Allah., Wejangan ini mengajarkan bahwa elemen hidup kita ini berada pada 7 keadaan, sebagaimana firman Allah kepada Muhammad SAW yang maknanya begini: Sesungguhnya Aku adalah Allah, yang berkuasa menciptakan segala sesuatu dengan kun fa yakun dari qodrat dan iradatKu, yang demikian ini menjadi pertanda bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

II, 2. Kang dhihin, ingsun gumana ing dalêm awang-uwung kang tanpa wiwitan tanpa wêkasan, iya iku alam ingsun kang maksih piningit.

II.2. Yang pertama, Aku ada dalam ketiadaan yang tanpa awal serta tanpa akhir, itulah alamKu yang Maha Gaib.

II, 3. Kapindho, ingsun anganakake cahya minangka panuksmaningsun dumunung ana ing alam pasênêdaningsun.

II, 3. Kedua, Aku mengadakan cahaya sebagai manifestasiKu, berada dalam kehendakKu.

II, 4. Kaping têlu, ingsun anganakake wawayangan minangka panuksma lan dadi rahsaningsun, dumunung ana ing alam pambabaraning wiji.

II, 4. Ketiga, Aku menciptakan bayang-bayang sebagai pertanda citraKu, yang berada pada alam kejadian/penciptaan (mula-jadi).
II, 5. Kaping pat, ingsun anganakake suksma minangka dadi pratandha kauripaningsun, dumunung ana ing alaming gêtih.

II. 5. Keempat, Aku mengadakan ruh sebagai pertanda hidupku, yang berada pada darah.

II, 6. Kaping lima, ingsun anganakake angên-angên kang uga dadi warnaningsun, ana ing dalêm alam kang lagi kêna kaumpamaake bae.

II, 6. Kelima, Aku mengadakan angan-angan yang juga menjadi sifatku, yang berada pada alam yang baru boleh diumpamakan saja.

II, 7. Kaping ênêm, ingsun anganakake budi, kang minangka kanyatahan pêncaring angên-angên kang dumunung ana ing dalêm alaming badan alus.

II, 7. Keenam, Aku mengadakan budi, yang merupakan kenyataan penjabaran angan- angan yang berada pada alam ruhani.

II, 8. Kaping pitu, ingsun anggêlar warana kang minangka kakandhangan sakabehing paserenaningsun. Kasêbut nêm prakara ing dhuwur mau tumitah ana ing donya iya iku sajatining manungsa.

II, 8. Ketujuh, aku menggelar akal sebagai sentral/wadah atas semua ciptaanku. Enam perkara tersebut di atas tercipta di dunia yang merupakan hakikat manusia.

* Wirayat Jati, Raden Ngabehi Ranggawarsita, Kapethil saking serat Jawi Kandha ing Surakarta Hadiningrat tahun 1908